Selasa, 05 Mei 2020

Nakal Atau Mengharap Cinta Yang Tulus


Nakal Atau Mengharap Cinta Yang Tulus

Seperti umumnya anak kecil seumuranku. Kami bermain bersama. Biasanya kami nyumet (menyulut) dor-doran. Ori (bambu besar) sepanjang 1 meteran. Satu sisi buntet (buntu). Sisi yang lain bolong (berlubang). Di sisi yang buntet itu dilobangi sebesar ibu jari. Lobang kecil ini gunanya untuk memasukkan air dan karbit. Bambu dor-doran ini agak dideglakne (dimiringkan kira-kira 10 derajat).
Ketika sudah siap untuk nyumet. Kami sudah secara alami berbagi peran. Ketua dalam hal ini sebagai Tukang Nyumet (penyulut) siap dengan cutik (lidi atau kayu kecil seukuran). Menyulutkan cutik itu ke ublik (botol berisi minyak tanah dengan penutup dan diberi lubang untuk sumbu. Sumbu ini disulut dengan api). Kemudian ke lubang dor-doran. Para asisten siap2 menutupi telinga. Dan. Dor… Rasanya seakan kita telah menenggelamkan dan meluluhlantakkan satu desa.
Kami berlomba-lomba dor-doran dengan anak dari dusun lain. Mereka juga nyumet bumbung dor doran. Yang terdengar menggema sampai ke tempat kami. Kami sangat menikmatinya. Berulang kali puasa, biasanya selalu menghabiskan hampir semua siang untuk dor-doran ini. Di sore hari kami ngaji di Pondok dekat rumah.
Waktu itu belum ada mercon yang tinggal nyumet aja. Tanpa peralatan yang macam-macam. Jadi, pada dor-doran ini, Kami harus beli karbit. Kemudian, karbit ini diwadahi plastic dan dikum (direndam) lengo (minyak) tanah.
Suara jlumdum… membuat adrenalin kami on terus. Seringkali ketika siang hari, waktunya tidur siang kami dioprak2 untuk istirahat. Tapi kami abai terhadap peringatan itu. Dan terus nyumet dan nyumet maneh (lagi). Sampek entek karbite.[1]
Orinya adalah ori kering. Aku sering ikut2an. Memang aq mersa dulu aku bukan anak dominan yang menguasai grup. Ketua geng kami namanya adalah Huri. Rumahnya di sebelah timur rumahku, seberang jalan. sekarang ia menjadi tukang bangunan yang terampil. sering dimintai bantuan untuk buat bangunan rumah, pagar dan sebagainya. Istilah populernya adalah nukang.
Orang tua kami cukup berhasil untuk membentuk budaya puasa. Sehingga masih kecil aku sudah puasa nutuk teko maghrib. Meski isinya ya dor-doran dan ikut-ikutan ngaji.
Orang tua kami saat puasa kadang juga tetep nyawah (pergi ke sawah), unduh kacang ijo, mbubuti suket, dan sebagainya.
Betapa liberal atau bebasnya anak kecil. Mereka tak mempertimbangkan nilai-nilai palsu. Semua mengalir. Biarkan alam menghukumi dengan adil. Biarkan lingkungan menghukumi dengan adil. Yang mereka perhatikan satu-satunya adalah gembira. Gembira yang harus menjadi di tujuan mereka. Yang harus mereka kejar. Yang harus mereka buru. Yang harus mereka pikirkan. Dan yang harus menguasai mereka.
Tidak boleh ada rasa sedih sedikitpun boleh menguasai. Tidak boleh ada pihak manapun mengganggu kegembiraan mereka.
Wahai, para orang dewasa. Jangan pahami kami sebagai anak nakal. Bukankah yang kalian cari juga kegembiraan, kebahagiaan. Sama dengan kalian. Carilah kebagahiaan sejati dan sejatinya sejati. Jangan cari kebahagiaan yang semu. Apalagi semunya semu. Koyo aku iki lho.[2] Delok en! lihatlah!)
Betapa tak enak kalau kebahagiaan dan kegembiraan itu semu atau palsu. Jajan kalau semu ra enak (tidak enak). Atos (keras). Lha. Apel abang, kok tibake plastik.[3] Blimbing monyor2, kok tibake plastik.[4] Beh.[5] Jan gak enak, nek palsu.[6]
Wahai Orang Dewasa…
Aku itu otentik dan murni sebagai anak kecil. Kamu boleh menggiringku pada sesuatu yang palsu. Kamu boleh menipuku. Kamu boleh mengajariku menipu, berbohong, dan pura-pura.
Tapi pahamilah kami itu otentik, fitrah, suci. Biarkan kami menggapai kesucian itu, gembira yang sejati, bahagia yang sejati, pendidikan yang benar-benar mendidik. Kami mungkin sesaat bingung. Namun, kami terus berjuang mencari dan terus mencari kebahagian dan kesucian itu. Sampai-sampai, tidak ada kata istirahat bagi kami. Pedahan (bersepedah) terus. Mancing terus. Dor-doran terus. Ngumpul konco-konco (berkolaborasi). Rapat-rapat agung (yang kalian anggap rapat remeh, atau kumpulan anak nakal). Aku gak punya urusan dengan anggapan itu. Mbelgedes. Ora urus. Awakmu lho yo podo ae karo aku.[7]
Aku sebagai anak kecil. Kemampuan bahasanya rendah. Jangan paksa mereka memiliki tafsir alam dan menafsiri alam dan lingkungan pergaulannya dengan bahasa yang kaya. Dengan ungkapan yang rumit layaknya orang dewasa. Namun, aku dan orang dewasa itu sama memiliki hati yang sama. Perangkat yang tak perlu bahasa, Tak perlu pikiran muluk-muluk (tingkat tinggi).
Yang kami miliki dan juga kalian para orang dewasa adalah hati yang murni, ikhlas, tunduk pada aturan suci. Semangat kami suci. Namun, kadang kesucian ini dibredel-bredel, diguyur karo tahine wong dewasa atau lingkungan kami. Kami hanya berjalan dengan kesucian kami. Meskipun kau guyur aku dengan jumbleng yang bau dan pekat. Aku terus melangkah. Dan melangkah. Tak peduli. Harapan kami. Suatu saat aku bisa suci kembali. Jadi jangan halangi kami dengan nafsu-nafsu dan keinginanmu yang kotor. Tuntunlah kami pada kesucian.
Kesucian akan lebih enak. Mangan sego lek enek krikile kan gak enak. Semakin banyak kerikil, semakin menyusahkan orang. Rawatlah kami. Bersihkan kami dari kerikil jalanan gelap kehidupan. Agar kami bisa menjadi nasi yang bersih putih wangi. Pantas untuk disuguhkan ke hadiran Allah, Sang Pencipta alam semesta. []



[1] Sampai habis karbitnya.
[2] Seperti aku ini lho
[3] Apel merah, kok ternyata plastik
[4] Blimbing yang warnanya menggoda, kok ternyata plastik
[5] Hmm
[6] Sungguh tidak enak, jika palsu.
[7] Kamu itu juga sama dengan kami.

4 komentar: