Minggu, 31 Mei 2020

Baik Buruk



Baik atau buruk masing-masing ada 3. Baik menurut saya. Baik menurut kamu. Dan baik yang sesungguhnya. Buruk juga begitu. 

Baik menurut saya, ini pertama kali menjangkiti setiap jiwa manusia. Istilahnya kemudian berkembang menjadi egois, keakuan, serba aku, mementingkan diri sendiri, dan sebagainya. Ketika keakuan menonjol, maka akan sering memicu konflik. Apalagi jika keakuan ini menjangkiti sekelompok orang atau bahkan bangsa. Perang wis.... 

Selanjutnya baik menurut kamu, baik menurut dia. Keduanya ini bisa menjadi opini. Bisa mendatangkan budaya meramal. hahaha. 

Yang terakhir adalah baik secara hakiki. Ini menjadi tantangan setiap manusia karena dibekali akal dan hati. Akal dan hati bisa mencapai itu. Dan Tuhanlah di ujung jalannya.  

Manusia yang berilmu dan berhati nurani bisa mendekati hakikat kebaikan dan kebajikan ini. Jalan yang panjang atau pendek itu pasti kita lalui. Lika liku jalan menggoda pejalan. Selamat menempuh jalan kebajikan dan kebaikan. 

Continue reading Baik Buruk

Sabtu, 30 Mei 2020

Pembelajaran Online Pake Apa Aja Dah


WhatsApp menjadi populer karena mudah digunakan. Banyak guru kemudian memakai WhatsApp ini untuk pembelajaran online (daring). Namun, WhatsApp bukanlah aplikasi LMS (Learning Management System).

Penggunaan WA sebagai pembelajaran daring itu tidak standar. Sehingga, sebagian guru menggunakan cara instan. Apa? Hanya kirim tugas. Seperti bertransaksi dengan mesin. Tidak manusiawi.

Patutlah, komplen dari banyak orang tua terberitakan. Selanjutnya, Mas Mentri memyarankan agar tidak banyak memberi tugas yang membebani. Tugas yang menambah beban hidup di masa pandemi. 

Semakin heterogen siswa, semakin berisiko untuk terjadi penularan. Sehingga sekolah yang memiliki siswa dari berbagai desa, akan terdampak. Terdampak berkurangnya siswa. 

Lebih baik dari yang atas adalah menggunakan google form. Ini hanya menuntut siswa untuk menjawab pilihan ganda atau isian. Goggle Form merupakan salah satu fasilitas yang bisa digunakan dalam LMS Google Classroom. 

LMS yang standar adalah Google Classroom, Schoology, dan masih banyak lagi. Ruangguru, Quipper, Zenius, Rumahku, merangkum LMS dengan diisi materi dan manajemen kelas dalam satu platform. 
Lembaga konvensional tidak menyelenggarakan daring. 

Apapun alat yang digunakan dalam pembelajaran online. Pembelajaran menjadi menarik jika antara guru dan murid saling memahami. Tidak harus mahal. Tidak harus menghabiskan banyak kuota. (MS) 
Continue reading Pembelajaran Online Pake Apa Aja Dah

Kamis, 28 Mei 2020

Mugi Waras

Perlu banget kita curiga atas fenomena Covid-19. Prof. Irwan Abdullah mengungkapkan 3 kecurigaan akademis. Ini beliau sampaikan dalam Webunar yang diselenggarakan oleh LP2M IAIN Ponorogo. 27 Mei kemarin. Selengkapnya bisa di lihat di https://youtu.be/V8l3_a9eEoU

Pertama, Tingkat infeksi yang rendah. Orang yang terinfeksi dalam sejumlah populasi manusia hanyalah 0,008 %. Artinya, dari 100.000 orang, yang terinfeksi 8 orang. Namun, kenapa tingkat infeksi yang rendah ini membuat kita ambyar? 

Kedua, Kesalahpahaman. Kenapa 1 orang di dalam rumah yang dinyatakan positif, kemudian seluruh anggota keluarga menjadi ambyar. Kenapa 1 orang penduduk desa, kemudian seluruh penduduk desa menjadi ambyar. 

Ketiga, Tingginya tingkat kematian. Covid-19 ini merupakan kelanjutan dari SARS. Covid-19 memiliki tingkat kematian 2-3%. Paling banyak 3-4%. Ini adalah toleransi. Jadi, jika kematian yang terjadi adalah sampai 6%, maka penyebab kematiannya bukanlah Covid-19.

Kita harus memiliki kecurigaan-kecurigaan di atas. Kecurigaan ini akan membuat kita waras. Kecurigaan yang menghilangkan ketakutan. Selanjutnya kewarasan itu kita tularkan ke lingkungan kita. Mugi Waras.... 

Continue reading Mugi Waras

Rabu, 27 Mei 2020

Untuk Apa Aku Hidup?


Untuk apa aku hidup? Aku kan gak minta. Kenapa aku laki-laki? Aku kan gak minta. Untuk apa aku perempuan? Aku kan gak minta. 

Hidup ini bukan soal kamu minta atau tidak. Hidup ini adalah misi. Ada misi yang harus kita selesaikan dalam hidup ini. 

Jangan pernah berpikir hidup kita ini gak ada gunanya. Pikiran ini gak enak. Pikiran ini gak cocok (compatible) dengan otak kita.

Pikiran atau akal adalah salah satu dari dua perangkat berharga yang dianugerahkan pada manusia. Perangkat satunya lagi adalah hati. Jika manusia menggunakan dua perangkat ini dengan baik, maka ia akan menjadi manusia sempurna dan utuh. 

Untuk merengkuh kebenaran, manusia menggunakan kedua perangkat ini. Ciri khas kerja akal adalah dengan mengernyitkan dahi (lahir atau batin) memeras otak, pusing, dan seterusnya. Sedangkan ciri khas kerja hati adalah merasa, tersentuh, menghayati, tidak ada pusing. 

Akal biasa digunakan oleh para akademisi, cendekiawan, dan para pakar. Hati biasa digunakan oleh seniman, sastrawan, pembuat film, pertunjukan, tarekat, dan sebagainya. Kedua perangkat ini sama-sama bergerak menuju kebenaran. 
Continue reading Untuk Apa Aku Hidup?

Selasa, 26 Mei 2020

Webinar Bincang Menulis bersama Prof. Ersis

Dalam webinar ini, saya mendapatkan energi listrik untuk menulis. Yang paling ditekankan beliau dalam webinar ini adalah menulis itu mudah. Mudah seperti menghela nafas. 

Mudah seperti kita makan, seperti kita minum. Mudah seperti kita sedang sadar. Mudah seperti kita tak sadar. Mudah seperti kita dalam mimpi. 

Lho, kan kalo kita nulis perlu baca. Perlu ada referensi. Iya sih. Itu nanti. Tak usah jauh-jauh kamu menulis. 

Manusia punya limitasi. Manusia punya batas. Kita tidak bisa mendengar suara bom di Palestina. Kita tak bisa mendengar auman singa di hutan Afrika. Begitu juga, kita tidak bisa menulis apa yang jauh dari kita. 

Kalaupun engkau memaksa menulis sesuatu yang jauh darimu. Itu sungguh sulit atau bahkan tidak mungkin. Jadi, mudahnya menulis adalah menulis sesuatu yang dekat dengan kita. 

Dekat karena bisa kita rasakan, bisa dicium aromanya, bisa kau pandang warnanya, bisa kau cicipi rasanya. Dan yang penting adalah otakmu bisa menjangkau. Atau masuk akal bagi kadar otak kita.

Sungguh banyak ilmu yang ku dapat dari Webinar Bincang Menulis bersama Prof. Ersis. Tak banyak yang aku tampilkan di sini. Selengkapnya bisa ditonton di YouTube https://www.youtube.com/watch?v=jImNSCmSzGY

Continue reading Webinar Bincang Menulis bersama Prof. Ersis

Senin, 25 Mei 2020

Pemirsa Blogspotmu Ada di Dekatmu

Bisa jadi pemirsa (pengunjung) blog-mu adalah orang Amerika. Kok bisa? Caranya. Klik "Statistik" di menu utama sebelah kiri. Kemudian klik "Pemirsa".

Sayangnya, pengunjung blogmu tidak bisa kamu ketahui dia siapa. orang mana. anake sopo. Sungguh penuh dengan kesunyian. Istilah kerennya memasuki dunia asketis

Tak seperti facebook. Yang ada foto. Yang mengkilap. Berwarna-warni. Kita bisa melihat profil orang yang beronteraksi dengan kita

Namun, pengunjung ini biasanya--bahkan sering--adalah orang Indonesia yang menggunakan aplikasi VPN (Virtual Private Network). Misalnya sekarang dia di Indonesia (entah bagian Indonesia mana dia berada) kemudian ia mengaktifkan aplikasi VPN di HP, laptop atau PCnya. Entah ke negara mana (sebagai contoh: Amerika) VPN ini mengalihkan terowongan jaringan internetnya. Maka, system blogspot akan mencatat bahwa pengunjung berasal dari Amerika.

Ini bisa anda coba atau simulasikan. Akseslah internet dengan menggunakan aplikasi VPN. kemudian kunjungilah blogspot yang anda punya. Maka, hasilnya adalah pengunjung blog anda bertambah. Dengan tambahan pengunjung dari luar negeri (bahasa lainnya: turis).

Negara Indonesia tidak ketat mengatur penggunaan aplikasi VPN. Sejak Juni 2019, pemerintah masih akan meninjau regulasi VPN. 
Continue reading Pemirsa Blogspotmu Ada di Dekatmu

Minggu, 24 Mei 2020

Menguntungkan Bukan Merugikan

https://trends.google.co.id
Dari situs ini bisa kita lihat tren penelusuran oleh pengguna Google. Seperti kita tahu bahwa Google adalah raja search engine.

Pencarian minal aidin wal faizin menduduki urutan ketiga. Setidaknya pada pagi ini. Budaya instan mencari inspirasi dari google sudah tidak terpisahkan lagi dari kehidupan kita. 

Dari Google Trends bisa kita tafsiri bermacam-macam. Keakuratan penafsiran tentunya memiliki nilai relativitasnya masing-masing. Selayaknya kita tafsiri sesuai dengan kebutuhan hidup kita. 

Dalam menghadapi data apapun seperti Google trends atau yang menembus jantung kita di tiga bulan terakhir. Ya. Itu itu.  Data positif Covid. Data yang ditampilkan janganlah merugikan kita. 

Data itu sebisa mungkin kita ambil manfaatnya. Janganlah kita ambil hal-hal yang merugikan kita. Manusia berdaulat untuk itu. Setiap manusia mampu untuk melakukan itu. Pastinya adalah manusia yang punya kesadaran. 

Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin....
Continue reading Menguntungkan Bukan Merugikan

Kamis, 21 Mei 2020

Tidak Diberi Sama Dengan Diberi

Tidak diberi sama dengan diberi. Secara matematis ini salah. Menurut orang umum prinsip ini salah.

Jika engkau paham kenapa kamu tidak diberi, tentu tidak diberi itu adalah pemberian yang lebih besar. Begitulah salah satu Kata Hikmah Ibnu Athaillah. Prinsip ini meski kurang populer, namun pengajian kitab Hikam pasti menjelaskan dan mengajak sami'innya untuk memahaminya. 

Prinsip ini senada dengan "inna maal usri yusra". Bersama dengan kesulitan, ada kemudahan. Seruwet apapun isi otakmu, tentu masih bisa engkau ungkapkan baik dengan kata atau tulisan, bahkan dengan mengerutkan wajah. 

Manusia memiliki wajah yang menakjubkan. Segala bagian tubuhnya bahkan isi hatinya dapat tergambar dari wajah. Namun,  Rasulullah Muhammad SAW. mengajarkan kita untuk tetap tersenyum. 

Banyak argumentasi yang diutarakan untuk senyum ini. Senyum itu sedekah. Tidak akan cukup hartamu yang banyak itu untuk menyenangkan semua orang, kecuali senyum. Surat 'Abasa, dan sebagainya. 

Tersenyumlah. Itu baik untuk dirimu juga lingkunganmu. Memang mudah senyum itu. Namun perlu latihan bagi yang belum terbiasa. 

Hadapi dengan senyuman. Ini adalah judul lagu Dewa 19. Sungguh musik itu punya energi yang besar. Begitu juga dengan tulisanmu.... 
Continue reading Tidak Diberi Sama Dengan Diberi

Rabu, 20 Mei 2020

Selamat Mengolah Jiwa

Semoga kita selalu dalam keadaan sehat wal afiat. 
صحة والعافية
Sering kita mendengar doa ini. Sehat itu kondisi fisik yang baik. Sedangkan afiat adalah kondisi seseorang yang mampu beramal baik dengan fisik atau non fisik. Makna dibatas aku dengar dari Ustad Fatkhurohim, M. Pd (Kepala Madrasah MI NU Plus Wateskroyo) saat rapat. 

إن مع العسر يسرا
inna ma'al 'usri yusra. Bersama keadaan sulit ada kemudahan. Ini harus dan selayaknya disadari oleh setiap insan. Ayat al Quran tersebut sungguh menghibur. Betapa sedih kondisi kita saat ini, sadarilah bahwa disitu juga ada kebahagiaan. 

Sedih atau bahagia bukanlah persoalan yang dianggap oleh Allah. Innallah la yandzuru ila shuwarikum wa lakinnallah yandzuru ila qulubikum. Yang dipandang Tuhan adalah hatimu.

Hati adalah inti kehidupan seseorang. Hati menentukan hidup matinya seseorang. Saat orang tak menggunakan hati nurani, maka seolah dia tak hidup. Dia menjadi manusia tak berguna.

Pendulum kemajuan fisik manusia melesat bak roket. Namun, hati atau jiwa manusia penuh dengan misteri. Tak pernah maju sedikitpun. Seolah berulang-ulang tiap waktu.

Betapa maju kehidupan fisik kita dibanding Mbah-mbah kita. Namun, moral dan akhlak manusia, tak pernah maju rombongan. Bel pernah ada tablet yang bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Selamat mengolah jiwa.... 

Continue reading Selamat Mengolah Jiwa

Selasa, 19 Mei 2020

Menginspirasi atau tidak tulisanmu itu?



Formula satu hari lima paragraph mungkin dosis yang tepat bagi orang yang belum bisa menulis istiqomah sepertiku. Seperti anak kecil yang perlu dipaksa belajar ini itu. Alhamdulillah aku dan teman-teman di grup "Maarif Menulis" memiliki orang tua dan senior-senior yang telaten.

Okelah kali ini temanya ini saja. "Menginspirasi atau tidak tulisanmu itu?"

Sudahlah kita tidak perlu memikirkan itu. Menulis saja itu ibadah. Lho kok bisa? Menulis itu adalah tugas setiap anak manusia untuk mempertanggungjawabkan apa yang ia pilih dalam hidup. Waduh, bahasamu kok gak bisa dimengerti?

Oke oke. Begini. Menulis itu menasehati diri atau orang lain dengan ikhlas. Lha, kalo begini gue paham. Terus, terus. Menulis itu membuatmu bijak. Wah, kalo ini perlu penjelasan. Menulis membuatmu memiliki kecerdasan jiwa yang terampil.

Memang sih, ada tulisan yang memiliki impact (dampak) baik dan buruk pada seseorang. Itu sih pemikiran yang terlalu jauh. Bahkan kulit pisang pun bisa untuk membunuh orang (membuat orang terpeleset dengan itu).

Menulislah apapun. Yakinlah ketika kamu sudah memiliki gudang tulisan yang berlimpah. Jiwa ini akan memilih untuk menjadi seorang pribadi yang baik. Sejahat-jahatnya orang pasti mengharapkan anaknya adalah orang yang baik.

Continue reading Menginspirasi atau tidak tulisanmu itu?

Jumat, 08 Mei 2020

Malu Dengan Tulisanku

Aku sebenarnya malu dengan tulisanku. Namun, apalah artinya malu. Jika hanya menghalangiku berkarya. Menghalangiku bermanfaat untuk otang lain. Rasa malu, aku slempitne wae nok njero klambi.

Saban hari, aku selalu berusaha untuk menulis. Ada saja gangguan itu. Ngantuk. Keju-keju. Mripat pedes. Ngurusi ini itu. Itu yang berasal dari diriku. Belum gangguan dari luar.

Dukungan dari WhatsApp Grup "Maarif Menulis" sangat berarti sekali bagi kepenulisanku. Khususnya Guru Agung Dr. Ngainun Naim, Subadi, dan penulis-penulis kawakan dan pemula yang lain. Inilah Jamaah Menulis yang sesungguhnya, yang dekat denganku.

Komentar berupa dua atau tiga kata di blog sangatlah diharapkan oleh penulis pemula sepertiku. Pertama kali melihat komentar dari Pak Ngainun Naim, wah, rasanya hatiku seperti melesat ke ujung dunia, saking senangnya.

Sejak itu aku berniat kuat (ber'azm) untuk menulis setiap hari. Doakan saya bisa istiqomah ya... Aamiin.

Sejak aku mengalami rasanya menulis di blogspot, aku merasa lebih nyaman dengan skema blogspot. Tidak ada gangguan. Beda dengan facebook, instagram dan media sosial yang lain.

Media sosial memang ada manfaatnya. Tapi janganlah mengganggumu untuk berkarya. Suguhkanlah karyamu meski itu tampak kecil. Jangan-jangan manfaatnya melebihi yang besar.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal sejatinya itu baik dan bermanfaat bagi kalian.

Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal sejatinya itu buruk dan merugikan bagi kalian.

Tidak ada yang menjamin tulisan kita buruk dan tak ada manfaatnya. Menulis itu perlu latihan. Berani menerbitkan tulisan juga perlu latihan. Selamat menulis dan menerbitkan tulisanmu. Salam Josh... 


Continue reading Malu Dengan Tulisanku

Menulislah Sebelum Engkau Mati

Bagi pribadi yang telah terbiasa menulis. Momen menulis itu menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan ketika sedang berinteraksi dengan kekasih. Sama menyenangkannya ketika sedang berinteraksi dengan keluarga.

Menulislah sebelum Engkau mati. Waktu yang kau gunakan untuk menulis akan abadi. Abadi bersama setiap makna di balik kata-kata. Abadi bersemayam di hati pembaca. Abadi bersama deretan arwah buku yang mulia.

Menulislah. Karena menulis itu berkhayal dan memecahkan persoalan. Meski kau terlihat duduk-duduk saja. Namun, sebenarnya penulis sedang bernegosiasi dengan bermacam-macam stake holder, tokoh masyarakat, bahkan presiden dari berbagai belahan dunia. Bernegoaiasi untuk menemukan solusi terbaik.

Menulis itu belajar menjadi bijaksana, dengan cara latihan berpikir dan berimajinasi. Bayangkan jika orang tidak terlatih berpikir, pasti keputusannya sering berpadu dengan kesembronoan. Berpikir itu ciri manusia yang tak boleh ditinggalkan.

Menulis itu belajar menjadi bijaksana dengan berlatih komunikasi dan bertanggung jawab atas segala yang kita pikirkan. Tanggung jawab adalah pembelajaran berharga dalam hidup. Jika kamu sering menulis, maka semakin banyak tanggung jawab yang harus kamu selesaikan. Memikul tanggung jawab akan mendewasakan pelakunya. Menjadikannya semakin matang dalam bertindak dan bertutur.

Menulis itu merubah. Perubahan itu memang niscaya dalam kehidupan. Bahkan setiap makhluk memiliki potensi perubahan dalam dirinya. Penulis berperan menjadi agen perubahan, pendukung perubaha, pelecut perubahan, bahkan sebagai pondasi perubahan.

Menulis itu menggugah. Tulisan itu menggugah niat baik dan buruk. Tentunya, penulis yang baik bermaksud menggugah niat baik. Dalam menggugah niat ini, ada dua jenis penulis. Ada penulis yang daya gugahnya tak sampai konak. Jika demikian, maka pembaca juga tak mampu meneruskan hubungannya dengan tulisan penulis.

Jenis kedua adalah penulis yang mampu konak. Penulis seperti inilah yang disukai para pembaca. Bahkan para penggemar dan pembacanya selalu menunggu-nunggu tulisan dan episod-episod berikutnya.

Menulis itu menghubungkan dunia ide dan dunia kenyataan. Apa yang ada dalam dunia angan-angan dan ide akan segera hilang dan musnah, jika tidak ada usaha diwujudkan. Salah satu perwujudan terbaik adalah tulisan. Sebagaimana kita tahu, Kitab suci dan buku-buku yang populis telah mewarnai setiap sisi kehidupan manusia.

Menulis itu mengkritisi bagaimana sebaiknya. Tulisan itu memiliki kekuatan untuk membangun dan mengoreksi. Bak seorang penasehat raja. Ngomong begitu saja di depan sidang kerajaan. Tulisan bisa berperan seperti itu. Tanpa perlu SK menjadi penasehat.

Menulis itu mengkritisi bagaimana yang telah terjadi. Dalam hal ini, menulis mengungkap kesalahan masa lalu. Dengan kata lain, menulis adalah ajang pertobatan. Bisa juga, dalam hal ini, menulis adalah reflektif. Kesalahan masa lalu tak boleh terulang. Kreativitas penulis sangat dibutuhkan, untuk menyampaikan kesalahan sebuah kelompok atau bangsa. Tulisan harus berbentuk sedemikian rupa sehingga tidak menodai harga diri bangsa atau kelompok.

Menulis itu memberi petunjuk. Tulisan adalah salah satu media yang penting dalam memberi petunjuk. Contoh tulisan ini adalah buku-buku resep makanan, buku budi daya tanaman, buku budi daya binatang ternak atau ikan. Buku seperti ini sangat membantu masyarakat. Buku adalah alat menyampaikan pengetahuan yang lebih murah jika dibandingkan dengan pelatihan atau seminar.

Menulis itu berpikir. Menulis itu merangkai kata. Menulis itu berimajinasi. Menulis itu berbagi pengalaman. Menulis itu berangan-angan. Menulis itu berkomunikasi. Menulis itu tak hanya soal rangkaian abjad. Namun menulis itu perlu gerak, suara, aroma, warna, nafas, denyut jantung, gelora hati, gelak tawa, dan air mata!

Apakah ada tulisan yang berfungsi sebagai alat transportasi? Apa yang dibawa oleh tulisan itu? Berapa berat muatan yang dibawa oleh tulisan itu? Seberapa penting barang muatan dari tulisan itu? Apa contohnya? Apakah pernah ada buku yang berisi barang terlarang?

Ambilah contoh Orhan Pamuk. Dia dituduh dan akan diadili di pengadilan. Tulisannya mengenai pembantaian oleh negara. Tentunya tulisan yang bernilai adalah yang berdasar riset dan fakta. Tulisan Orhan Pamuk ini bentuknya novel. Bukan laporan seperti surat kabar.

Yang menjadikan Orhan Pamuk berurusan di pengadilan bukanlah buku yang ditulisnya. Namun, statement-nya yang membawa nama buruk terhadap Negara Turki. Yang mana Turki ini adalah kebangsaannya.

Apapun bentuk tulisan yang kamu buat. Tulisan adalah prasasti apik. Maka. Menulislah.[]
Continue reading Menulislah Sebelum Engkau Mati

Selasa, 05 Mei 2020

Nakal Atau Mengharap Cinta Yang Tulus


Nakal Atau Mengharap Cinta Yang Tulus

Seperti umumnya anak kecil seumuranku. Kami bermain bersama. Biasanya kami nyumet (menyulut) dor-doran. Ori (bambu besar) sepanjang 1 meteran. Satu sisi buntet (buntu). Sisi yang lain bolong (berlubang). Di sisi yang buntet itu dilobangi sebesar ibu jari. Lobang kecil ini gunanya untuk memasukkan air dan karbit. Bambu dor-doran ini agak dideglakne (dimiringkan kira-kira 10 derajat).
Ketika sudah siap untuk nyumet. Kami sudah secara alami berbagi peran. Ketua dalam hal ini sebagai Tukang Nyumet (penyulut) siap dengan cutik (lidi atau kayu kecil seukuran). Menyulutkan cutik itu ke ublik (botol berisi minyak tanah dengan penutup dan diberi lubang untuk sumbu. Sumbu ini disulut dengan api). Kemudian ke lubang dor-doran. Para asisten siap2 menutupi telinga. Dan. Dor… Rasanya seakan kita telah menenggelamkan dan meluluhlantakkan satu desa.
Kami berlomba-lomba dor-doran dengan anak dari dusun lain. Mereka juga nyumet bumbung dor doran. Yang terdengar menggema sampai ke tempat kami. Kami sangat menikmatinya. Berulang kali puasa, biasanya selalu menghabiskan hampir semua siang untuk dor-doran ini. Di sore hari kami ngaji di Pondok dekat rumah.
Waktu itu belum ada mercon yang tinggal nyumet aja. Tanpa peralatan yang macam-macam. Jadi, pada dor-doran ini, Kami harus beli karbit. Kemudian, karbit ini diwadahi plastic dan dikum (direndam) lengo (minyak) tanah.
Suara jlumdum… membuat adrenalin kami on terus. Seringkali ketika siang hari, waktunya tidur siang kami dioprak2 untuk istirahat. Tapi kami abai terhadap peringatan itu. Dan terus nyumet dan nyumet maneh (lagi). Sampek entek karbite.[1]
Orinya adalah ori kering. Aku sering ikut2an. Memang aq mersa dulu aku bukan anak dominan yang menguasai grup. Ketua geng kami namanya adalah Huri. Rumahnya di sebelah timur rumahku, seberang jalan. sekarang ia menjadi tukang bangunan yang terampil. sering dimintai bantuan untuk buat bangunan rumah, pagar dan sebagainya. Istilah populernya adalah nukang.
Orang tua kami cukup berhasil untuk membentuk budaya puasa. Sehingga masih kecil aku sudah puasa nutuk teko maghrib. Meski isinya ya dor-doran dan ikut-ikutan ngaji.
Orang tua kami saat puasa kadang juga tetep nyawah (pergi ke sawah), unduh kacang ijo, mbubuti suket, dan sebagainya.
Betapa liberal atau bebasnya anak kecil. Mereka tak mempertimbangkan nilai-nilai palsu. Semua mengalir. Biarkan alam menghukumi dengan adil. Biarkan lingkungan menghukumi dengan adil. Yang mereka perhatikan satu-satunya adalah gembira. Gembira yang harus menjadi di tujuan mereka. Yang harus mereka kejar. Yang harus mereka buru. Yang harus mereka pikirkan. Dan yang harus menguasai mereka.
Tidak boleh ada rasa sedih sedikitpun boleh menguasai. Tidak boleh ada pihak manapun mengganggu kegembiraan mereka.
Wahai, para orang dewasa. Jangan pahami kami sebagai anak nakal. Bukankah yang kalian cari juga kegembiraan, kebahagiaan. Sama dengan kalian. Carilah kebagahiaan sejati dan sejatinya sejati. Jangan cari kebahagiaan yang semu. Apalagi semunya semu. Koyo aku iki lho.[2] Delok en! lihatlah!)
Betapa tak enak kalau kebahagiaan dan kegembiraan itu semu atau palsu. Jajan kalau semu ra enak (tidak enak). Atos (keras). Lha. Apel abang, kok tibake plastik.[3] Blimbing monyor2, kok tibake plastik.[4] Beh.[5] Jan gak enak, nek palsu.[6]
Wahai Orang Dewasa…
Aku itu otentik dan murni sebagai anak kecil. Kamu boleh menggiringku pada sesuatu yang palsu. Kamu boleh menipuku. Kamu boleh mengajariku menipu, berbohong, dan pura-pura.
Tapi pahamilah kami itu otentik, fitrah, suci. Biarkan kami menggapai kesucian itu, gembira yang sejati, bahagia yang sejati, pendidikan yang benar-benar mendidik. Kami mungkin sesaat bingung. Namun, kami terus berjuang mencari dan terus mencari kebahagian dan kesucian itu. Sampai-sampai, tidak ada kata istirahat bagi kami. Pedahan (bersepedah) terus. Mancing terus. Dor-doran terus. Ngumpul konco-konco (berkolaborasi). Rapat-rapat agung (yang kalian anggap rapat remeh, atau kumpulan anak nakal). Aku gak punya urusan dengan anggapan itu. Mbelgedes. Ora urus. Awakmu lho yo podo ae karo aku.[7]
Aku sebagai anak kecil. Kemampuan bahasanya rendah. Jangan paksa mereka memiliki tafsir alam dan menafsiri alam dan lingkungan pergaulannya dengan bahasa yang kaya. Dengan ungkapan yang rumit layaknya orang dewasa. Namun, aku dan orang dewasa itu sama memiliki hati yang sama. Perangkat yang tak perlu bahasa, Tak perlu pikiran muluk-muluk (tingkat tinggi).
Yang kami miliki dan juga kalian para orang dewasa adalah hati yang murni, ikhlas, tunduk pada aturan suci. Semangat kami suci. Namun, kadang kesucian ini dibredel-bredel, diguyur karo tahine wong dewasa atau lingkungan kami. Kami hanya berjalan dengan kesucian kami. Meskipun kau guyur aku dengan jumbleng yang bau dan pekat. Aku terus melangkah. Dan melangkah. Tak peduli. Harapan kami. Suatu saat aku bisa suci kembali. Jadi jangan halangi kami dengan nafsu-nafsu dan keinginanmu yang kotor. Tuntunlah kami pada kesucian.
Kesucian akan lebih enak. Mangan sego lek enek krikile kan gak enak. Semakin banyak kerikil, semakin menyusahkan orang. Rawatlah kami. Bersihkan kami dari kerikil jalanan gelap kehidupan. Agar kami bisa menjadi nasi yang bersih putih wangi. Pantas untuk disuguhkan ke hadiran Allah, Sang Pencipta alam semesta. []



[1] Sampai habis karbitnya.
[2] Seperti aku ini lho
[3] Apel merah, kok ternyata plastik
[4] Blimbing yang warnanya menggoda, kok ternyata plastik
[5] Hmm
[6] Sungguh tidak enak, jika palsu.
[7] Kamu itu juga sama dengan kami.

Continue reading Nakal Atau Mengharap Cinta Yang Tulus