Minggu, 28 Juni 2020
Sabtu, 27 Juni 2020
Musyawarah Lagi
Jumat, 26 Juni 2020
Ayo Berdakwah di Pulau Terluar
Kamis, 25 Juni 2020
Komunis dan Covid
Rabu, 24 Juni 2020
Elang Yang Tak Tahu Sayapnya
Selasa, 23 Juni 2020
Juweh
Senin, 22 Juni 2020
Madin Darunnajah mulai lagi
Minggu, 21 Juni 2020
Borobudur Kita
Sabtu, 20 Juni 2020
Nama atau Identitas
Bayangkan jika identitas itu penting. Betapa banyak Kartu Tanda Pengenal yang harus dicetak. Yang penting adalah nama.
Terus apa bedanya nama dengan identitas. Ini aku juga sedang mencari jawabannya. Yang jelas nama dan identitas itu sinonim
Ada anggapan bahwa identitas itu penting. Ini karena memaknai identitas sebagai jati diri atau ciri khas. Jati diri dikaitkan dengan pengenalan diri. Bahkan ada film berjudul "Identity". Ada banyak buku yang membahas tentang "Identity". Di sini masalahnya akan terang jika saya membaca dulu. Maaf, saya belum baca buku-buku itu.
Jika demikian, maka identitas itu penting. Mengenali jati diri itu penting. Tahu diri itu penting. Ngerti aku iku sopo iku penting.
Hidup itu tak perlu punya sesuatu yang spesial. Tak perlu lebih unggul daripada yang lain. Yang penting dalam hidup adalah menjalankan tugas. Tugas yang telah diamanatkan oleh Tuhan kepada setiap makhluk-Nya.
Jumat, 19 Juni 2020
Pengantar Bidayatul Mujtahid
Kamis, 18 Juni 2020
Rabu, 17 Juni 2020
Pasaran Pusaran
Selasa, 16 Juni 2020
Kata Sondlot
Senin, 15 Juni 2020
Sakit itu lebih baik?
Minggu, 14 Juni 2020
Matikan keinginanmu sehingga kamu hidup
Jumat, 12 Juni 2020
Hebatnya Murid Prof. Mulyadhil
Webinar Mulyadhi's circle berlangsung dua jam. Setengah jam pertama diisi dengan memperkenalkan muridnya yang sudah 7 tahun yang lalu ditinggal. Setengah jam selanjutnya adalah pemaparan materi oleh Prof. Mulyadhi. terakhir adalah tanya jawab.
Pertama yang diperkenalkan adalah Yusuf Daud. Dia mendalami tulisan tentang tasawuf. Tulisannya membawanya keliling dunia.
Dia sering diundang ke luar negeri. Short Course ke Amerika 2x. Keliling 7 negara bagian AS. Saya gak bisa diundang Obama Foundation, kecuali dapat ilmu dari Prof. Mulyadhi.
Buku Mengukir Kata menginspirasi Yusuf untuk menulis apa yang dirasa. Curahkan aja. Mengalir saja.
Waktu di Roma, Yusuf bertemu dengan Dosen yang sering nulis. Tapi Pak Mul tetep the best. Pak Mul adalah satu-satunya di Indonesia yang nulis pake tangan. Dan sangat produktif. Dia sering mendampingi beliau di Majlils Ilmu. Sungguh majlisnya sangat penuh ilmu.
Murid kedua yang diminta memperkenalkan diri adalah Dr. Naim.
Saya belum pernah kuliah tatap muka dengan Prof. Mulyadhi.
Keunikan beliau dimulai dengan tulisan tangan. MLI setebal 3000 halaman itu
dari tulisan tangan. Spirit berbagi ilmunya tidak pernah berhenti. Prof. Mul
menekuni dan konsisten di satu bidang. Tidak berpindah.
Yang ketiga adalah Nanik Yulianti. Pertama kali berkesan
sekali. S1 diajar Prof. Mulyadhi. Prof ini down to earth. Sering ditraktir bakso. Kenal
pertama di i-cast Paramadina. Pak Mul selalu langganan minta surat rekomendasi untuk
daftar ke Amerika, Turki, dan berhasil.
Baru aja pulang dari US. Wisuda tanggal 15 Mei kemarin.
International program. Pembimbing skripsi saya. Pernah dikenalkan ma orang
Turki.
Pak Mul itu ulis setiap hari. Bawa buku kemana-mana. Selalu bawa
catatan. Membicarakan filsafat dengan Bahasa yang ringan banget.
Kok ada ya orang gak pernah marah, selalu senyum. Gak ada
keliatan Lelah. Berilmu dan mengamalkan ilmunya.
Kamis, 11 Juni 2020
Bersama Rahmadiyanti Rusdi
Rabu, 10 Juni 2020
Awal Tahun Pelajaran
Selasa, 09 Juni 2020
Dakwah Bil Kitabah
Senin, 08 Juni 2020
Belajar dan Berani
Seorang pemimpin dituntut (di-taklif) untuk mau belajar dan berani bertindak. Terutama di masa krisis, seorang pemimpin dituntut untuk cepat belajar, mau mengakui kesalahan, cepat belajar dari kesalahan. Masa krisis seperti waktu Pandemi Covid sekarang.
Pemimpin yang telah memiliki pengetahuan dan analisis yang mendalam tidak akan ada gunanya jika dia tidak mau bertindak. Ilmu jika tak diamalkan bisa dikatakan gak ada manfaatnya. Pengetahuan atau ilmu itu berasal dari analisis dari berbagai data yang dikumpulkan. Semakin banyak data terkumpul semakin lengkaplah ilmu yang akan dihasilkan. Meskipun, akan membuat pusing bagi orang yang tak terbiasa menghadapi data yang melimpah.
Setiap pemimpin harus punya mind set yang kuat, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana menginstitusikan konsep yang dibuat oleh pimpinan sampai dengan jajaran dibawah. Karena kadangkala konsep yang bagus dan pemimpin yang berani belum tentu bisa berjalan jika sosialisasi konsep tidak terinstusialisasikan. Kata kuncinya lebih kepada continuity, adaptable dan institutialized.
Continuity itu istiqomah dan terus menerus. Adaptable itu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Institutialized adalah melembagakan dan menjadikan konsep menjadi sistem yang otomatis.
Pemimpin itu sebaiknya berjejaring. Hal yang tak boleh diabaikan di masa Revolusi Industri 4.0 sekarang adalah berjejaring. Memang masih ada saja individu atau pemimpin yang sifatnya adalah One Stand Alone. Berdiri sendiri tanpa berjejaring.
Minggu, 07 Juni 2020
New Normal Activism?
Sabtu, 06 Juni 2020
Keputusan Berumah Tangga
Jumat, 05 Juni 2020
Meta-Leadership, Bagaimana?
Kamis, 04 Juni 2020
Rasa Bangsa
Rabu, 03 Juni 2020
Webinar Universitas Monash
Selasa, 02 Juni 2020
Koordinasi Awal RMI Tulungagung Menyambut Awal Tahun Ajaran Baru
Setelah Hari Raya, tradisi Pondok Pesantren adalah membuka kembali Kegiatan Belajar Mengajar (Ngaji). Sehingga, RMI mengadakan koordinasi dengan para Masyayikh Pondok Pesantren. Koordinasi ini membahas mulainya ngaji setelah Syawal di masa Pandemi Covid. Ini dikarenakan ketidaksamaan antara Kemenag dan Pemerintah Kabupaten.
Dokter Kasil dalam meeting ini mengatakan bahwa kenyataannya Covid-19 ini ada. Covid ini kenyataannya menular dengan cepat. 2 Bulan saja 22 negara. Mengenai fatality rate nya ada yang besar dan ada yang kecil.
Dalam menghadapi Covid ini, ada dua mazhab. Mazhab lunak dan Mazhab kereng (keras).Mazhab lunak istilah resminya adalah Herd Immunity. Yakni, melawan Covid dengan kekebalan.
Mazhab kereng istilah resminya adalah mazhab pencegahan. Yakni, melawan Covid dengan melakukan tindakan pencegahan. Pencegahan dengan menjauhkan virus dari inangnya (manusia). Kedua mazhab ini memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
Koordinasi awal ini akan dilanjutkan dengan koordinasi lanjutan. Intinya, para Masyayikh tidak menghendaki adanya kambing hitam Cluster Pesantren. Pesantren yang terlanjur membuka kegiatan ngaji dimohon untuk didampingi secara baik. (MS)














