Senin, 15 Juni 2020

Sakit itu lebih baik?

Lapar itu lebih unggul daripada kenyang. Tubuh menjadi lebih kuat. Tubuh menjadi lebih ringan. Mudah mobilitasnya. Lebih produktif. 

Saya merasa lebih produktif ketika dalam keadaan lapar. Puasa tepatnya. Di bulan Ramadhan lebih tepat lagi. Ketahanan tubuh dalam belajar atau ngaji lebih optimal. 

Dalam kitab-kitab tasawuf, dalam bagian awal selalu membahasa kelebihan lapar. Diawali dengan pentingnya makanan halal. Diakhiri dengan cerita ulama-ulama tentang pengalaman laparnya. 

Berbeda jauh dengan kehidupan manusia sekarang. Hidupnya penuh dengan kelebihan makanan. Hampir saja tak pernah lapar. Ini pasti berakibat terhadap perbedaan kualitas jiwa orang (ulama) dulu dengan ulama sekarang. 

Lebih dari itu. Kata Hikmah dalam Hikam karya Ibnu Athaillah, disebutkan bahwa Tidak diberi sama dengan diberi. Dalam syarahnya dinarasikan tentang dua ulama yang bertemu. Satunya baru saja melihat buah segar dan dia menginginkannya. Satunya lagi, Ulama atau Wali yang sedang terbaring di pinggir jalan yang sedang dirubung (digrembyeng, dicokoti) lalat (pita).

Ulama Yang kedua ini tahu bahwa ulama yang ketemu dia ini baru saja melek (pengen) buah. Ini dianggap sebagai kerendahan dalam jalan sufi. Yang mana dia baru saja hatinya terpalingkan dari Allah. Berbeda dengan ulama yang kedua. Keadaannya adalah lebih baik. Sakit yang dia alami selalu mengingatkannya kepada Allah. Jadi, Ulama yang kedua lebih baik keadaannya daripada ulama yang pertama. Begitulah ukuran jalan sufi 

2 komentar: