Minggu, 19 Juli 2020

Doni Yang Cemen

Di rumah mertuanya, semua dikendalikan oleh Ibu. Ini tidak cocok dengan jiwa Doni. Tapi tak apalah itu memang rumahnya. Kontrol, pengendalian, dikte (anggap aja istilahnya begitu) terjadi. Doni tak punya pilihan untuk membuat pilihan sendiri. 

Ada beberapa prinsip yang perlu diperbaiki menurut Doni. Dan itu tidak bisa diungkapkan langsung oleh Doni. Takut terjadi keributan atau kesalahpahaman. 

Keputusan yang diambil Doni adalah menunggu istrinya mau diajak ke timur. Itu saja untum saat ini. Dan berharal semoga kondisinya membaik. Dan mertuanya lebih terbuka untuk berdialog dengan hangat.

Istri Doni lebih nempel dengan ayah atau ibunya. Hal ini membuat hati Doni tersinggung. Sebenarnya aku ini suamimu atau bukan sih. 

Rukun dan mesra harusnya terjadi antara Doni dan istrinya. Tapi sementara ini tidak. Siapa sih yang tidak ingin pasangannya hangat dan mesra. 

Continue reading Doni Yang Cemen

Kamis, 09 Juli 2020

Tak Punya Pendirian?

Apakah yang dimaksud dengan "tak punya pendirian"?
Jika aku memiliki ide atau gagasan yang sama denganmu berarti aku punya pendirian? 
Jika ide atau gagasanku tidak sama denganmu berarti aku tidak punya pendirian? 
Jika aku mengikuti kata orang tuaku, kau bilang aku tak punya pendirian? 
Jika aku mengikuti katamu berarti aku punya pendirian?
Hanya dengan ikut, kemudian vonis plin plan, tak berpendirian akan menyasar kepadaku? 
Pernahkah kamu murni tidak pernah ikut-ikutan?
Kamu berpakaian, kamu bicara, kamu makan, dan sebagainya. Itu semua ikut-ikutan dengan orang di sekelilingmu. Terutama orang tuamu. 

Sebenarnya apa yang dimaksud punya pendirian? Punya pendirian memiliki istilah lain yaitu punya prinsip. Punya pegangan.
Di umur ke-31, aku masih meyakini bahwa kata-kata orang tua terutama Ibu itu penting. Aku sendiri mengajarkan kepada santriku bahwa permintaan orang tua, khususnya Ibu adalah kewajiban. Meskipun permintaan itu terbilang mubah secara hukum syariat, namun, karena permintaan itu keluar dari orang tua, khususnya Ibu, maka permintaan itu berubah hukum, dari mubah menjadi wajib. 
Jika permintaan orang tua berlawanan dengan permintaan mertua, tentunya aku akan menangkan permintaan orang tua. Meski fenomena sosial tidak akan saklek seperti itu. Fenomena sosial itu rumit dan luas. Seluas pikiran setiap manusia. Tugas ilmuwan hanyalah mengenali dan membuat kategori-kategori, untum mempermudah dan mempercepat penyelesaian masalah. 

Semakin merasa besar diri, semakin sulitlah komunikasi terbangun. Yang ada kemudian adalah tembok yang saling menebal dan meninggi. Tak ada ucapan, tak ada perhatian. Namun, ketika merasa rendah diri mengemuka, yang terjadi adalah kehangatan komunikasi, keakraban, saling memahami, seperti dua sejoli yang saling berpelukan. 

Setinggi apapun ilmumu, akan tak ada gunanya ilmu itu, jika hatimu masih dikuasai kesombongan. Kesombongan itu sering tak disadari. Di sinilah pentingnya ilmu agama. Ilmu agama itu seolah tak ada wujudnya, tapi benar-benar besar efeknya. Tak bisa dielakkan. 
Continue reading Tak Punya Pendirian?

Kamis, 02 Juli 2020

Mustahil Menulis, Mustahil Tidak Menulis

Mustahilnya menulis. Mustahil kita bisa menuliskan perasaan dan pikiran dengan persis. Persis seperti yang kita pikirkan dan kita rasakan. Perasaan itu begitu dalam. Pikiran itu begitu luas. 

Mustahil tidak menulis. Mustahil kita tidak menulis. Menulis adalah bertindak dan berucap secara sistematis. Mustahil kita tidak seperti itu. Mustahil kita selalu sembrono bertindak dan berucap. 

Kalaupun kita ternyata menulis, sangat sedikit sejatinya itu. Begitu kaya apa yang kita pikir dan rasa. Tidak ada kata, tidak ada yang bisa ditulis. Perkataan seperti itu hanya karena kurang peka atau tak mau serius. 

Kalau tidak serius, mengapa kita hidup. Hidup kita ini ada misinya. Ada misi yang harus kita selesaikan. 

Serius itu bukan berarti tak tertawa. Tertawa itu adalah bentuk keseriusan kita pada objek yang kita pikir dan rasa. Tertawa di sini bukan berarti melecehkan. Tapi bermain rasa dan pikir dalam diri. Bak pemain musik yang memainkan musiknya. 

Continue reading Mustahil Menulis, Mustahil Tidak Menulis

Rabu, 01 Juli 2020

Nadzam Metodologi Penelitian

Membayangkan masuknya Mata Pelajaran Metodologi Penelitian Di Pondok Pesantren Salaf. Aneh memang. Tapi kayaknya menarik. 

Metodologi Penelitian merupakan alat produksi ilmu pengetahuan. Pesantren Salaf identik dengan hafalan dan adab. Meski sebenarnya, tidak sesederhana itu.

Di Pondok Pesantren, seringkali ada kewajiban menghafalkan pelajaran berpa nadzam-nadzam. Pengetahuan yang begitu padat berisi begitu mudah masuk ingatan dengan adanya nadzam. Anggap saja musikalisasi ilmu cara klasik. 

Sepengetahuan saya belum ada kitab atau buku yang memuat metodologi penelitian dalam bentuk nadzoman. Kenapa nadzoman? Santri terbiasa dengan nadzoman. Ketika bertemu nadzom, maka nalurinya adalah menghafalkannya. Itu yang tertanam selama bertahun-tahun dia mengaji. 

Sebagai Contoh, Nahwu saraf yang begitu panjang kali lebar, dengan asyik menggoyang kepala hanya karena bentuknya nadzam. Meski mungkin ada faktor lain, seperti bahwasanya alfiyah itu karangannya Wali Allah. Terlepas itu semua, tantangan membuat nadzam metodologi penelitian layak untuk mendapat tempat untuk diperhatikan, ditekuni, dan dilahirkan dalam karya tulis. Selamat berproduksi. 

Continue reading Nadzam Metodologi Penelitian