Senin, 02 November 2020

Hidup Sederhana

Perabot keseharianNya Kanjeng Nabi Muhammad masih digadaikan. Begitulah keadaan Nabi kita ketika meninggal. Perabot yang dimaksud di sini adalah Baju Perang. Perabot ini menjadi hal mutlak diperlukan di zamannya. Terutama Panglima Perang.

Gadainya seharga gandum 30 sha'. Atau kira-kira 90 kg gabah. Sudah terbayangkan to kira-kira harganya berapa. Betapa sederhananya kehidupan Beliau.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Kaneng Nabi Muhammad meninggal dalam keadaan masih punya hutang.
ما ترك رسول الله صلى الله عليه وسلم دينارا ولا درهما ولا شاة ولا بعيرا ولا أوصى بشيء
Rasulullah saw (ketika meninggal dunia) tidak meninggalkan dinar (uang emas), dirham (uang perak), kambing, onta, dan tidak berwasiat apapun.

Hidup sederhana itu penting. Perlu latihan. Sederhana bukan berarti pelit dan kikir. Namun, dermawan kepada orang lain. Tetapi kepada dirinya sendiri sederhana saja.

Latihan hidup sederhana yang paling mujarab adalah di Pondok Pesantren. Ada yang melatih dirinya hidup sederhana ketika hidup di kos. Jauh sekali kualitas orang yang hidup dari fasilitas dengan orang yang hidup dari realitas. Contoh orang pertama adalah anak manja. Contoh orang kedua adalah orang-orang yang telah sukses terkaya di dunia.

Teladannya harusnya Nabi Muhammad. Namun terkadang orang merasa jauh. Jauh waktu dan tempat.

Continue reading Hidup Sederhana

Minggu, 01 November 2020

Membentuk Menjadi Menumbuhkembangkan

Paradigma bahwa pendidikan atau lembaga pendidikan adalah dalam rangka membentuk kepribadian peserta didik agaknya harus digeser. Paradigma ini akan lebih compatible jika diganti sebagai berikut: "Pendidikan atau lembaga pendidikan diadakan untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik".

Di zaman disrupsi sekarang ini, tidak tepat jika sekolah masih menobatkan dirinya sebagai sumber utama pembelajaran. Dalam kenyataannya, sekolah hanya bisa mengisi sekitar 20% otak dan hati peserta didik. Hati para siswa lebih banyak terisi dengan perbincangan dengan teman sebayanya. Mereka lebih suka mengisi waktunya dengan gadgetnya.

Seolah-olah peran guru agak tergeser oleh adanya gadget (untuk tidak mengatakan peran guru diganggu). Sebagaimana biasanya, dalam sejarah, guru harus cepat menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi. Ini bukan soal keberhasilan pekerjaannya, tapi utamanya adalah menyiapkan generasi penerus.

Sudah jamak disadari, bahwa peran guru sangat mewarnai jiwa siswa yang akan menjadi masyarakat di masa depan. Masyarakat kita sudah kadung nyaman dengan mempercayakan masa depan anaknya kepada lembaga pendidikan. Masyarakat cenderung melihat tampilan luar lembaga pendidikan. Hampir saja tidak ada waki murid yang telaten monitor terhadap proses belajar mengajar.

Dalam memonitor atau mengawasi jalannya proses belajar mengajar, wali murid hanya sesekali melihat nilai harian. Itu pun ya hanya sekedar melihat. Tak ada tindak lanjut. Yang penting tak ada nilai merah sehingga dipanggil ke sekolah.
Continue reading Membentuk Menjadi Menumbuhkembangkan

Jumat, 30 Oktober 2020

Ibnul Qash

Ahmad bin Abi Ahmad al-Thabari, Syekh Imam (Guru Besar Para Imam), memiliki julukan/ kun-yah Abul Abbas bin al-Qash. Beliau adalah Imam (Pemimpin segalanya) pada masanya. Maha karya tulis Beliu diantaranya adalah Al-Talkhis, Al-Miftah, Adab Al-Qadi, Al-Mawaqit dan lain-lain dalam bidang Fiqh.

Ibnul Qash adalah seorang Imam Besar yang belajar Fiqh langsung kepada Abi Al-Abbas Bin Suraij. Beliau tinggal di Tabaristan. Para Ulama di Tabaristan berguru kepada Beliau.

Kemudian, Beliau digantikan oleh muridnya yang bernama Abu Ali al-Zujaji. Hal ini karena beliau hendak tinggal di Torsus. Beliau memimpin para prajurit di garis terdepan. Beliau syahid di sini pada tahun 335 M.

Telah masyhur bahwasanya Tokoh ini adalah termasuk orang paling khusyu ketika bercerita. Di antara cerita-cerita terkenal itu adalah sebagai berikut:
Suatu ketika beliau membawakan sebuah cerita di depan masyarakat Torsus. Dia bercerita tentang sifat-sifat keagungan Allah, kewibawaan-Nya, dan siksaan-Nya. Tenggelamlah beliau dalam rasa takut kepada Allah. Sehingga beliau pingsan dan meninggal.

Isi hati akan mempengaruhi ucapan dan tindakan. Semakin penuh isi hati, semakin berbobotlah ucapan dan tindakan. Cinta itu memang tak tampak. Tapi lebih jelas daripada apa yang tampak di depan. Ya Allah. 
اللهم ارزقنا حبك و حب من أحبك
Continue reading Ibnul Qash

Kamis, 29 Oktober 2020

Mati atau Hidup

Mati adalah akhir dari seluruh makhluk di dunia ini. Akhir adalah penentu nilai. Akhir adalah waktu penilaian. Baik di awal menjadi tak berarti jika akhirnya buruk.
Mati dalam kebaikan adalah keinginan setiap orang. Namun, tak seorang pun yang tahu kapan mati datang. Kecuali makhluk yang sangat sedikit, hampir saja tidak ada. Pada akhirnya, kita hanya bisa berusaha dan berdoa.

Betapa menyedihkan kehidupan orang yang takut mati. Betapa menyedihkannya kehidupan orang yang takut kehilangan dunia yang pernah ia miliki. Karena hal itu di luar kemampuannya. Semua telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Semua dalam Ilmu Rahasianya. Bahkan Dokter nomor satu pun tak tahu kapan datangnya kematian.

Apakah mati lebih baik?
Apakah hidup lebih baik?
Selanjutnya, para Ulama saking pasrahnya memiliki doa sebagai berikut: 
اللهم إن كان ميتا خيرا لي فأمتني
Ya Allah, Jika mati lebih baik bagiku, maka matikan aku.
إن كان حيا خيرا لي فأحيني
Jika hidup lebih baik bagiku, hidupkan aku

Doa ini mungkin kasar bagi sebagian orang. Mungkin kurang sopan bagi sebagian orang. Mungkin tak enak didengar. Namun, jika kita mau masuk lebuh dalam, kita akan merasakan kedamaian dan ketentraman hidup. Bahwa kita hanya bisa berusaha. Pelaku kebaikan sesungguhnya adalah Allah Sang Maha Pengatur. Alhamdulillah....
Continue reading Mati atau Hidup

Rabu, 30 September 2020

Ngengkleng

Bingung, mumet, ngengkleng itu hal biasa. Biasa terjadi dalam proses menemukan pemahaman baru. Itu tidak terelakkan bagi setiap insan berakal.

Bagi insan berjiwa kerdil. Ia akan menepisnya, menghalaunya, dan mengusirnya. Mengusir segala pikiran yang bertentangan apa yang biasa rasa nyaman selama ini.

Bagi insan berjiwa besar, ia akan mencintai pikiran aneh itu, mendalami setiap lubang gelap lorongnya. Menyelidik segala kemungkinan yang mengelilinginya. Mencari ilmu yang tersembunyi di dalamnya. Semakin sukalah dia akan hal hal aneh yang melintas di pikirannya.

Pikiran ini seperti nubuwwah atau kenabian. Seperti itu ya seperti. Tidak sama dengannya. Tidak semua orang mengalami lintasan pikiran yang sama. Tidak semua orang berhasil memecahkan masalah yang melintas di pikirannya.

Berbahagialah kamu yang dianugerahi Allah pikiran-pikiran aneh. Itu adalah hadiah besar. Namun, kita harus memanfaatkannya secara benar. Agar tak menjadi musibah.

Bagi insan yang tak mampu atau hampir saja tak mampu mengatasi pikiran-pikiran aneh, mendekatlah kepada sang Guru. Kamu akan tercerahkan
Continue reading Ngengkleng

Senin, 14 September 2020

Pijat atau Dokter

Segala sesuatu memiliki kekhasan masing-masing. Tak ada yang benar-benar persis. Begitulah keajaiban. Setidaknya sesuatu yang tampak sama itu berlainan ruang dan waktu.

Hitungan satu dan dua lebih dari sekedar beda jumlah. Dua bukanlah sekedar satu yang digabung. Ada dimensi lain yang tidak hanya berbasis hitungan atau jumlah.

Sebagian kelompok meyakini kebenaran dan kehebatan metode dan informasi yang dia miliki. Kemudian ditambah dengan menganggap jelek dan tak akurat metode dan informasi yang lain. Kedokteran merasa lebih unggul daripada pengobatan yang lain.

Selanjutnya perlawanan dan pertempuran keyakinan atau ideologi ini terus berlangsung, bahkan menjadi perdebatan di atas ranjang. Tuhan sebagai juru hakim yang sesungguhnya sering dipakai sebagai pendukung nafsu amarah anak manusia. Tuhan pun digeret kesana kemari, tanpa sedikitpun dipahami dengan benar firman-Nya.

Dunia farmasi dan kedokteran masih kurang memihak ekonomi lemah. Akibatnya, masyarakat mempunyai mekanisme sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan cara terjangkau. Pijat refleksi. Salah satunya ada di Desa Gesikan Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung. Selatan Balai Desa keselatan 400m. Pak Heru. 

Continue reading Pijat atau Dokter

Jumat, 28 Agustus 2020

Blendrang adalah ampunan

Blendrang adalah sayur lodeh kemarin, lusa atau lebih yang dipanaskan kembali. Kesempatan menikmati makanan ini menjadi budaya masyarakat Jawa. Jika dulu alasannya adalah kemiskinan. Untuk menghemat anggaran makanan

Blendrang adalah kesempatan kedua. Terkadang kesempatan pertama terlalu dini. Meskipun mungkin sudah sempurna.
Kesalahan itu bisa diperbaiki. Ada pintu taubat yang selalu terbuka. Sama halnya dengan blendrang. Jika masakan pertama masih kurang bumbu, bisa ditambahi dengan 
Continue reading Blendrang adalah ampunan

Selasa, 18 Agustus 2020

Bicara seperlunya

Beruntunglah orang yang mampu bicara hanya seperlunya saja. Karena banyak orang yang kelebihan dalam bicara, akhirnya jatuh pada kehancuran, penyesalan, dan kegelapan. Betapa sulit menahan untuk tidak bicara dan tidak komentar.

Beruntunglah orang yang mampu menginfaqkan kelebihan hartanya. 
Continue reading Bicara seperlunya

Jumat, 14 Agustus 2020

Merdeka atau Lupa

Merdeka yang sesungguhnya adalah terbebas dari nafsu. Tidak menuruti nafsu. Tapi menuruti apa yang benar. Yang Maha Benar. Yang Haqq. Allah. Tuhan.

Sejak manusia ada di dunia, dia selalu merumuskan apa yang benar melalu piranti akal dan hatinya. Hanya dua piranti itu yang bisa ia gunakan. Yang lain hanyalah pendukung kedua piranti itu. 

Sedikitpun tak pernah manusia bergeser dari perjalanan mencari dan menelusuri jalan kebenaran. Meski sering atau jarang diselingi dengan lupa dan kealpaan.

Lupa memang biasa atau sering menghinggapi diri manusia. Andai tak ada manusia itu lupa. Pasti tak perlu ada ceramah. Gak perlu ada Majlis Taklim. 

Lembaga bimbingan, Lembaga keagamaan seringkali fungsinya adalah mengingatkan. Andai manusia tak pernah lupa tentang kematian yang akan segera atau nanti menghampirinya, niscaya akan sepi dunia. Tak ada tempat rekreasi. Tak ada tempat hiburan. 
Continue reading Merdeka atau Lupa

Senin, 10 Agustus 2020

Psikologi Kematian

 "Psikologi Kematian" tema acara Youtube Abu Marlo malam ini. Menghadirkan Prof. Komarudin Hidayat. Ada yang bertanya: "Kenapa Manusia takut mati? Padahal setelah mati, dia masuk surga." Pak Komar menjawab: Setelah kemkemat adalah seauatu yang tak diketahui (unknown).

Manusia membenci dan atau takut pada sesuatu yang tak ia ketahui. Sedangkan, dunia ini telah memanjakannya. Jadi, ia tidak mau atau takut berpisah dengan dunia.

Pertanyaan yang menarik lagi adalah: "Apa maksudnya: Jika hari kiamat datang, maka matahari terbit dari barat"? Jawabannya adalah sebagai berikut: Dulu dunia timur selalu identik sebagai sumber ilmu, sumber kebajikan, sumber kemajuan.

Sekarang, dunia barat termasuk Amerika memiliki universitas-universitas yang pasti di dalamnya ada "Islamic Studies". Banyak Profesor-profesor lahir dari sini. Banyak juga profesor luar yang mengajar di sini. Seseorang tidak bisa menjadi Profesor dalam bidang ini, kecuali telah menempuh pendidikan Islam.

Jadi, Kebenaran ada di mana-mana. Tak perlu kita persempit pandangan kita. "al ilmu dlallatul mu'min." Di manapun kita ketemu, kita bisa ambil. 

Continue reading Psikologi Kematian

Minggu, 09 Agustus 2020

Melawan Lupa Manusia

 Kita pernah atau sering mendengar "Perjuangan melawan lupa". Kalimat ini berasal dari Buku berjudul "The Book of Laughter and Forgetting" (1979) karya Milan Kundera. Dia adalah Novelis Republik Ceko. 

Manusia memang memiliki sifat lupa. "al insanu mahallul khata' wan nisyan. Satu sisi lupa itu adalah kenikmatan. Peristiwa buruk yang pernah terjadi akan berkurang dampaknya pada jiwa manusia dengan lupa. 

Lupa juga bisa menjadi bencana. Karena lupa, kita bisa membuang banyak waktu. Hanya karena lupa meletakkan kunci. Bencana ini bisa kita kurangi dengan "Disiplin Diri" atau istiqomah. Selalu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Merapikan dan membersihkan lingkungan kita. 

Membersihkan, merapikan dan mengindahkan lingkungan adalah bentuk konkrit perjuangan melawan lupa. Otak manusia suka mengingat yang indah, yang cantik, yang wangi, lagu yang menyenangkan. Otak juga berusaha mempertahankan memori indah tersebut. 

Hari ini rumahku membuat sumur bor. Sumur biasa airnya kurang jernih (baca: tidak jernih) dan kadang menimbulkan gatal. Sehingga aku membaca buku "Dari Bulak Sumur Untuk Indonesia (Kumpulan Pemikiran Insan Universitas Gadjah Mada) ".

Continue reading Melawan Lupa Manusia

Sabtu, 08 Agustus 2020

Sejarawan dan Teoritisi Sosial

 Sejarawan adalah ahli sejarah. Sosiolog adalah ahli teori (teoritisi) sosial. Kedua bidang ini sama-sama memperhatikan masyarakat. Apakah ada sengketa di antara mereka?


Ya. Mereka adalah tetangga yang tak selalu akur. Begitulah catatan Peter Burke dalam bukunya "History and Social Theory". Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul "Sejarah dan Teori Sosial".


Garapan Sosiolog adalah masyarakat dengan titik fokus pada generalisasi (perampatan) struktur masyarakat dan perkembangannya. Sedangkan garalan Sejarawan adalah juga masyarakat dengan titik fokus pada perbedaan-perbedaan antarmasyarakat dan perubahannya dari waktu ke waktu. 


Perubahan adalah watak dunia. Begitu juga dengan masyarakat. "al 'alamu haditsun". Alam (segala sesuatu selain Tuhan itu diciptakan). Wataknya sesuatu yang diciptakan itu berubah.


Jika kita membandingkan masyarakat satu dengan masyarakat yang lain, maka kita akan menemukan keunikan-keunikan. Setiap masyarakat selalu mengalami perubahan sedikit atau banyak. Struktur yang ada di masyarakat itu mengalami perubahan. Dan perubahan itu terstruktur. 

Continue reading Sejarawan dan Teoritisi Sosial

Kamis, 06 Agustus 2020

Legitimasi Simbolik dan 4 Orang

Istilah Legitimasi Simbolik sering dikaitkan dengan William R Liddle. https://doi.org/10.22146/poetika.10431
Dalam artikel ini, dapat dipahami bahwa Legitimasi simbolik pelembagaan sesuatu yang ada di masyarakat dengan sedikit modifikasi. Modifikasi yang tidak banyak ini memiliki tujuan mengikat minat dan kesukaan masyarakat pada budayanya. Padahal budaya itu tidak netral. Modifikasi ini untuk menarik masyarakat. Sesuatu yang tidak baru kan kurang menarik. 

Jadi, budaya yang berjalan -dalam hal ini mocopat- bisa diartikan ketundukan masyarakat kepada pemerintah. Meski pemerintah sedang melakukan kesalahan di sektor lain. Seperti monopoli, Korupsi, Kolusi, Nepotisme, dan lain sebagainya.

Hal ini tidak masalah. Yang penting rakyat harus sadar. Bahwa tidak ada yang netral dalam setiap tindakan. Terutama budaya. 

Ada kaidah umum. Semua manusia itu terbagi menjadi empat. Jadilah kamu pemimpin kebajikan, setidaknya jadilah pengikut kebajikan. Jangan sampai jadi nomer tiga, yaitu pengikut kejahatan. Apalagi jadi nomer empat, yakni pemimpin kejahatan.

Memikirkan setiap tindakan secara matang-matang adalah penting. Setiap tindakan memiliki akibatnya masing-masing. Setiap tindakan adalah dukungan atau penolakan. Sangat sedikit, bahkan tidak ada yang netral. Kita tahu bahwa, Segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia.
Continue reading Legitimasi Simbolik dan 4 Orang