Paradigma bahwa pendidikan atau lembaga pendidikan adalah dalam rangka membentuk kepribadian peserta didik agaknya harus digeser. Paradigma ini akan lebih compatible jika diganti sebagai berikut: "Pendidikan atau lembaga pendidikan diadakan untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik".
Di zaman disrupsi sekarang ini, tidak tepat jika sekolah masih menobatkan dirinya sebagai sumber utama pembelajaran. Dalam kenyataannya, sekolah hanya bisa mengisi sekitar 20% otak dan hati peserta didik. Hati para siswa lebih banyak terisi dengan perbincangan dengan teman sebayanya. Mereka lebih suka mengisi waktunya dengan gadgetnya.
Seolah-olah peran guru agak tergeser oleh adanya gadget (untuk tidak mengatakan peran guru diganggu). Sebagaimana biasanya, dalam sejarah, guru harus cepat menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi. Ini bukan soal keberhasilan pekerjaannya, tapi utamanya adalah menyiapkan generasi penerus.
Sudah jamak disadari, bahwa peran guru sangat mewarnai jiwa siswa yang akan menjadi masyarakat di masa depan. Masyarakat kita sudah kadung nyaman dengan mempercayakan masa depan anaknya kepada lembaga pendidikan. Masyarakat cenderung melihat tampilan luar lembaga pendidikan. Hampir saja tidak ada waki murid yang telaten monitor terhadap proses belajar mengajar.
Dalam memonitor atau mengawasi jalannya proses belajar mengajar, wali murid hanya sesekali melihat nilai harian. Itu pun ya hanya sekedar melihat. Tak ada tindak lanjut. Yang penting tak ada nilai merah sehingga dipanggil ke sekolah.
Tantangan kita sebagai guru semakin besar, guru kreatif dan inovatif serta mengikuti perkembagan tehnologi yang kayaknya sangat dibutuhkan anak didik diera sekarang ini.
BalasHapus