Doni rumahnya timurnya pasar Bandung Tulungagung. Berangkat ke Rumah Sakit Baptis Kediri jam 5.50 pagi Nyampek baptis jam 7.10. Nyewa mobil plus sopir. Nama sopirnya adalah Rudi. Orang Kalianyar Ngunggahan Bandung Tulungagung. Dia adalah driver grab.
Namun, Doni kali ini tidak pakai aplikasi grab pesannya. Langsung sms. Kata Rudi Grab mengambil 20% dari pembayaran konsumen.
Di masa pandemi ini, untuk ke baptis biayanya 215rb berangkat. 215rb juga untuk balik. Gak ada bus. Kalo bus patas harapan jaya 16rb. Kalo ATB (Angkutan Tarif Biasa) cuma 8rb.
Di perjalanan, gak ada satu pun bus harapan jaya terlihat. Memang bus ini adalah favorit untuk rute Trenggalek Surabaya. Ataupun sebaliknya. Sejak aturan PSBB Surabaya tiga minggu yang lalu, Bus Harapan Jaya berhenti beroperasi.
Sesampainya di baptis, Doni langsung menuju loket pendaftaran. Saat itu rumah sakit kayaknya baru buka. Wanita setengah baya berambut pendek. Pakai kaus warna biru donhker. Sibuk mempersiapkan dan merapikan semua perangkat di mejanya.
Bapak sudah punya kartu? Sudah Bu. Kemarin saya daftar online. O....
Ok. Sebentar ya.
Ini. Ibu itu memberikanku dua lembar kertas bukti pendaftaran. Kartu warna putih dan merah (fotokopian).
Langsung ke blok B ya Pak... Dengan nada ramah dan sopan
Iya Bu. Terimakasih.
Entah, ini sudah 8x Doni berkunjung ke Baptis. Bertemu dokter Andrologi. Andrologi adalah Cabang Ilmu kedokteran yang mengkhususkan dalam kesuburan pria.
Doni penuh kegumcangan jiwa. Guncangan dari semua lingkungannya dia rasa. Kenapa sudah 5 tahun belum juga dikaruniai buah hati.
Teman2nya, Famili2nya, selalu bertanya udah hamil? anaknya umur berapa? berbagai model pertanyaan menyasar doni.
Istrinya bolak balik juga ikut terguncang. Kok lama to Mas aq gak hamil2. Sering diikuti tangisan kembik2. Seringkali stress merundung. Kadang diikuti sakit perut, keram, muntah dan kejang.
Ketika merasa tertekan kadang Doni memisahkan diri. Gak enak denger pertanyaan atau saran tentang kehamilan. Saran itu kan baik. Tapi bagi Doni itu memojokkan.
Doni gak punya teman curhat. Semua temannya sudah punya momongan semua. Dulu dia bangga menikah duluan. Namun sekarang orang yang baru saja menikah, sudah punya momongan.
Perasaan Doni ini mungkin termasuk hasad, iri, dengki. Tapi tidaklah. Dengki itu kan jika diikuti dengan tindakan merusak orang yang didengkinya.
Namun, secara hakiki ini termasuk dengki. Penyakit itu. Sadar ya sadar. Dengki secara hakiki adalah hati merasa berat jika ada orang lain mendapatkan nikmat.
Rasa itulah yang sedang dimiliki istrinya. Mudah menepis dengki itu dari dirinya sendiri. Namun, untuk menepis dengki hakiki dari istrinya atau orang lain bukanlah hal mudah.
Seorang suami ketika sudah di rumah, bukanlah Ustadz lagi. Dia adalah suami. Dia adalah menantu. Tambahan status untuk posisinya Doni sekarang.
Doni merasa terpaksa untuk hidup serumah dengan mertuanya. Mertuanya sih welcome aja. Namun, menantu seperti Doni juga punya perasaan.
Dia merasa rendah diri. Tak kerasan. Gak bisa dibanggakan. Dan seluruh perasaan gak enak lainnya.
Hidup serumah dengan mertua memang enak. Makanan terjamin. Masakan enak. Rumah berkeramik. bersih. Bahkan, baru saja rumahnya diberi pagar tembok tinggi tambahan hiasan rumah mertuanya.
Watak manusia adalah jika ia terlalu banyak utang jasa, maka ia merasa tidak enak. Setidaknya itulah yang dirasakan Doni.
Perasaan ini semakin menggemparkan dirinya ketika mertuanya cerita keauksesan usahanya di masa mudanya. Di masa awal pernikahannya.
Menantunya pun berperasaan. Dalam hatinya, aq juga ingin sukses seperti bapak ibu. Tapi kondisiku sekarang lagi tidak beruntung. Momongan lom ada. Usaha juga gak ada.
Nangislah jadinya. Nangispun harus diempet. Hanya dia tumpahkan saat tidur. saat di kamar. Saat dia tempelkan kepalanya di bantal. Tertumpahlah lelehan air mata di bantal.
Doni seorang yang pernah nyantri di Pondok. Dia tahu bahwa istimnak atau mansturbasi itu haram hukumnya. Namun, ia mencari sumber2 lain yang bisa membenarkan tindakan itu.
Doni harus melakukan masturbasi untuk analisa spermanya. Entah, ini adalah ke 8 kalinya. Pertama kali dia melakukan analisa spwrma adalah di trenggalek. Dan itu hasilnya adalah Normospermatozoa. Artinya normal.
Satu tahun setelah Analisa sperma pertama itu, ia melakukannya lagi di Laboratorium Ultramedica Tulungagung. Dan hasilnya adalah Astenozoospermia. Artinya Bentuk dan gerak sperma sebagian tidak normal.
Gak tahu alasannya apa kok begitu hasilnya. Kabarnya stress juga bisa mengurangi kualitas sperma. Akhir2 ini memang tugas2 kuliah yang menjadi beban pikirannya.
Analisa sperma terakhir adalah Oligoastenozoospwrmia. Artinya Jumlah, bentuk dan gerak sperma perlu diperbaiki. Kata dokternya dua hari berikutnya, dia diminta untuk datang ke baptis.
Istrinya masih 2x tidur di rumah orang tua Doni. Ini dianggap ortu Doni menjadi alasan istrinya belum juga bisa hamil. Istrinya sih percaya bahwa dimanapun berada juga bisa hamil. Tidak harus dengan tidur di rumah ortu Doni.
Istrinya Doni sebenarnya mau saja tidur di rumah ortu Doni. Tapi, Ibunya yang gak tega. Keadaan anaknya selalu menjadi pikirannya. Anaknya kadang mengalami kejang. Dan itu ditakuti dan dikhawatirkan Ibunya. Takut mati. Itu kata kuncinya.
Seringkali ibunya kebingungan ketika anaknya kejang. Menggosok2 badannya. punggungnya. perutnya. diblonyohi (diolesi) minyak kayu putih. Kadang freshcare. Kadang balsem geliga.
Jika kejang. Ibunya takut kalau kejang itu membawa kematian anaknya. Dengan pertimbangan inilah Doni tidak mampu memaksa istrinya tidur di rumah orang tua Doni.
Jadi, Doni hidup mengalir saja. Jalani hidupnya dengan mengalir. Tanpa memaksa istrinya. Tanpa memaksa orang tuanya. Tanpa memaksa mertuanya.
Periksa dan pengobatan kesuburan pria ini ya relatif mahal bagi Doni. Doni yang gak berpenghasilan. Dia Guru sukarelawan. Guru ngaji. Gajinya seikhlasnya. setiap pemeruksaan 400rb sampai 700rb. Saldonya tinggal 1,3 jt.
Dia gak tau ini nanti apa pertemuan dokter untuk terakhir kali. Ah, Doni Doni. Banyak orang sepertimu. Bahkan ada yang belasan tahun lom punya momongan. Ok bro, trimakasih sarannya. Saranmu menguatkan hatiku.
Saran dan saran sering dia terima. Kyainya, seniornya, teman-temannya semua ia tampung. Sebagian ia praktekkan. Sebagian tidak ia praktekkan karena tidak memungkinkan. Atau jika dipraktekkan, menimbulkan keguncangan dirumahnya.
Memang semua pengetahuan tak semua bisa dipraktikkan. Hampir semua saran yang diterima Doni ia praktekkan. Ke Dokter. Ke Dukun. Dukun Pijat. Minum jamu. Makan ini makan itu. Terakhir Doni ke dokter. Karena itu yang disarankan dan diminta oleh mertua yang serumah dengannya.
Keputusan diambil dengan pertimbangan orang terdekat. Karena ini soal keluarga. Kalo soal negara jangan ya. Masak keputusan negara dengan pertimbangan orang terdekat. Kacaulah negara.

Sangat menghibur pak... Dan banyak ilmunya... Mtr swn
BalasHapusPanjang...tapi tetep betah mmbacanya sampai habis.... Doni yg lusr biasa.
BalasHapusJika bertemu Doni, tolong di sarankan untuk diskusi dg ustadz Subadi...moga2 berjodoh dan segera di berikan momongan..
Tulisan paling panjang pak ngud... Wes dang rene dijak ngopi mas doni.... Biar tanbah strong..
BalasHapus