Senin, 08 Juni 2020

Belajar dan Berani

Seorang pemimpin dituntut (di-taklif) untuk mau belajar dan berani bertindak. Terutama di masa krisis, seorang pemimpin dituntut untuk cepat belajar, mau mengakui kesalahan, cepat belajar dari kesalahan. Masa krisis seperti waktu Pandemi Covid sekarang.

Pemimpin yang telah memiliki pengetahuan dan analisis yang mendalam tidak akan ada gunanya jika dia tidak mau bertindak. Ilmu jika tak diamalkan bisa dikatakan gak ada manfaatnya. Pengetahuan atau ilmu itu berasal dari analisis dari berbagai data yang dikumpulkan. Semakin banyak data terkumpul semakin lengkaplah ilmu yang akan dihasilkan. Meskipun, akan membuat pusing bagi orang yang tak terbiasa menghadapi data yang melimpah.

Setiap pemimpin harus punya mind set yang kuat, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana menginstitusikan konsep yang dibuat oleh pimpinan sampai dengan jajaran dibawah. Karena kadangkala konsep yang bagus dan pemimpin yang berani belum tentu bisa berjalan jika sosialisasi konsep tidak terinstusialisasikan. Kata kuncinya lebih kepada continuity, adaptable dan institutialized.

Continuity itu istiqomah dan terus menerus. Adaptable itu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Institutialized adalah melembagakan dan menjadikan konsep menjadi sistem yang otomatis.

Pemimpin itu sebaiknya berjejaring. Hal yang tak boleh diabaikan di masa Revolusi Industri 4.0 sekarang adalah berjejaring. Memang masih ada saja individu atau pemimpin yang sifatnya adalah One Stand Alone. Berdiri sendiri tanpa berjejaring.

10 komentar: