Rabu, 05 Agustus 2020

Keputusan Berumah Tangga


Sudah delapan kali Doni berkunjung ke Baptis. Bertemu dokter Andrologi. Andrologi adalah Cabang Ilmu kedokteran yang mengkhususkan dalam kesuburan pria.

Doni penuh kegumcangan jiwa. Guncangan dari semua lingkungannya dia rasa. Kenapa sudah 5 tahun belum juga dikaruniai buah hati.

Teman-temannya, Famili-familinya, selalu bertanya: "Udah hamil? Anaknya umur berapa? berbagai model pertanyaan menyasar doni.

Istrinya bolak balik juga ikut terguncang. Kok lama to Mas aku belum hamil. Sering diikuti tangisan sendu. Seringkali stress merundung. Kadang diikuti sakit perut, keram, muntah dan kejang.

Ketika merasa tertekan kadang Doni memisahkan diri. Gak enak denger pertanyaan atau saran tentang kehamilan. Saran itu kan baik. Tapi bagi Doni itu memojokkan.

Doni gak punya teman curhat. Semua temannya sudah punya momongan semua. Dulu dia bangga menikah duluan. Namun sekarang orang yang baru saja menikah, sudah punya momongan.

Perasaan Doni ini mungkin termasuk hasad, iri, dengki. Tapi tidaklah. Dengki itu kan jika diikuti dengan tindakan merusak orang yang didengkinya.

Namun, secara hakiki ini termasuk dengki. Penyakit itu. Sadar ya sadar. Dengki secara hakiki adalah hati merasa berat jika ada orang lain mendapatkan nikmat.

Rasa itulah yang sedang dimiliki istrinya. Mudah menepis dengki itu dari dirinya sendiri. Namun, untuk menepis dengki hakiki dari istrinya atau orang lain bukanlah hal mudah.

Seorang suami ketika sudah di rumah, bukanlah Ustadz lagi. Dia adalah suami. Dia adalah menantu. Tambahan status untuk posisinya Doni sekarang.

Doni merasa terpaksa untuk hidup serumah dengan mertuanya. Mertuanya sih welcome aja. Namun, menantu seperti Doni juga punya perasaan.

Dia merasa rendah diri. Tak kerasan. Gak bisa dibanggakan. Dan seluruh perasaan gak enak lainnya.

Hidup serumah dengan mertua memang enak. Makanan terjamin. Masakan enak. Rumah berkeramik. bersih. Bahkan, baru saja rumahnya diberi pagar tembok tinggi tambahan hiasan rumah mertuanya.

Watak manusia adalah jika ia terlalu banyak utang jasa, maka ia merasa tidak enak. Setidaknya itulah yang dirasakan Doni.

Perasaan ini semakin menggemparkan dirinya ketika mertuanya cerita keauksesan usahanya di masa mudanya. Di masa awal pernikahannya.

Menantunya pun berperasaan. Dalam hatinya, aku juga ingin sukses seperti bapak ibu. Tapi kondisiku sekarang lagi tidak beruntung. Momongan lom ada. Usaha juga gak ada.

Nangislah jadinya. Nangispun harus diempet. Hanya dia tumpahkan saat tidur. saat di kamar. Saat dia tempelkan kepalanya di bantal. Tertumpahlah lelehan air mata di bantal.

Doni seorang yang pernah nyantri di Pondok. Dia tahu bahwa istimnak atau mansturbasi itu haram hukumnya. Namun, ia mencari sumber-sumber lain yang bisa membenarkan tindakan itu.

Doni harus melakukan masturbasi untuk analisa spermanya. Entah, ini adalah ke 8 kalinya. Pertama kali dia melakukan analisa spwrma adalah di trenggalek. Dan itu hasilnya adalah Normospermatozoa. Artinya normal.

Satu tahun setelah Analisa sperma pertama itu, ia melakukannya lagi di Laboratorium Ultramedica Tulungagung. Dan hasilnya adalah Astenozoospermia. Artinya Bentuk dan gerak sperma sebagian tidak normal.

Gak tahu alasannya apa kok begitu hasilnya. Kabarnya stress juga bisa mengurangi kualitas sperma. Akhir2 ini memang tugas2 kuliah yang menjadi beban pikirannya.

Analisa sperma terakhir adalah Oligoastenozoospwrmia. Artinya Jumlah, bentuk dan gerak sperma perlu diperbaiki. Kata dokternya dua hari berikutnya, dia diminta untuk datang ke baptis.

Istrinya masih 2x tidur di rumah orang tua Doni. Ini dianggap ortu Doni menjadi alasan istrinya belum juga bisa hamil. Istrinya sih percaya bahwa dimanapun berada juga bisa hamil. Tidak harus dengan tidur di rumah ortu Doni.

Istrinya Doni sebenarnya mau saja tidur di rumah ortu Doni. Tapi, Ibunya yang gak tega. Keadaan anaknya selalu menjadi pikirannya. Anaknya kadang mengalami kejang. Dan itu ditakuti dan dikhawatirkan Ibunya. Takut mati. Itu kata kuncinya.

Seringkali ibunya kebingungan ketika anaknya kejang. Menggosok2 badannya, punggungnya, perutnya, diblonyohi (diolesi) minyak kayu putih. Kadang freshcare. Kadang balsem geliga.

Jika kejang. Ibunya takut kalau kejang itu membawa kematian anaknya. Dengan pertimbangan inilah Doni tidak mampu memaksa istrinya tidur di rumah orang tua Doni.

Jadi, Doni hidup mengalir saja. Jalani hidupnya dengan mengalir. Tanpa memaksa istrinya. Tanpa memaksa orang tuanya. Tanpa memaksa mertuanya.

Periksa dan pengobatan kesuburan pria ini ya relatif mahal bagi Doni. Doni yang gak berpenghasilan.Dia Guru sukarelawan. Guru ngaji. Gajinya seikhlasnya. setiap pemeriksaan 400rb sampai 700rb. Saldonya tinggal 1,3 jt.

Dia gak tau ini nanti apa pertemuan dokter untuk terakhir kali. Ah, Doni Doni. Banyak orang sepertimu. Bahkan ada yang belasan tahun lom punya momongan. Ok bro, trimakasih sarannya. Saranmu menguatkan hatiku.

Saran dan saran sering dia terima. Kyainya, seniornya, teman-temannya semua ia tampung. Sebagian ia praktekkan. Sebagian tidak ia praktekkan karena tidak memungkinkan. Atau jika dipraktekkan, menimbulkan keguncangan dirumahnya.

Memang semua pengetahuan tak semua bisa dipraktikkan. Hampir semua saran yang diterima Doni ia praktekkan. Ke Dokter. Ke Dukun. Dukun Pijat. Minum jamu. Makan ini makan itu. Terakhir Doni ke dokter. Karena itu yang disarankan dan diminta oleh mertua yang serumah dengannya.

Keputusan diambil dengan pertimbangan orang terdekat. Karena ini soal keluarga. Kalo soal negara jangan ya. Masak keputusan negara dengan pertimbangan orang terdekat. Kacaulah negara.

Doni memiliki istri yang unik. Unik di sini maksudnya adalah memiliki kekurangan. Istrinya ini terkadang mengalami kejang-kejang. Mungkin penyebabnya adalah asam lambung naik. Setelah sekian lama aku amati, penyebabnya yang aku pahami adalah dua. Asam lambung dan asam urat naik. 

Asam lambung harus Cek Laboratorium SGOT SGPT. Untuk akurasi datanya. Ini jarang dilakukan. Itu dicek 4 tahun yang lalu.

Nah kalo cek asam urat bisa sering. Mungkin satu atau lima bulan sekali. Apotek dekat rumah melayani cek asam urat. Meski terkadang kehabisan alat. 

Untuk cek asam urat, istrinya pergi ke Apotek yang berjarak 150 meter dari rumah. Biasanya diantar Doni sendiri. Terkadang diantar ibu istrinya. Terkadang juga ayahnya. 

Enak kata orang, hidupnya Doni itu. Setidaknya menurut mertuanya. Sarapan disediakan. Makan siang disediakan. Makan malam disediakan. Doni hanya pengangguran. Semua tersedia. Setidaknya ini menurut mertuanya.

Sedikit demi sedikit terlihatlah kekurangan pasangan seiring berjalannya waktu. Doni tak berpenghasilan pasti. Dia hanyalah seorang Guru Sukwan (Sukarelawan). Gajinya 100rb per bulan. Dia juga ustadz di Madrasah. Waktunya hampir habis untuk itu.

Doni tak bekerja yang lain. Di sinilah istrinya merasa kurang. Istrinya minta mencari pekerjaan yang berpenghasilan. Doni pun menjawab. Kalo aku sukanya jadi guru. Kalo bekerja yang lain, aku harus melepaskan pekerjaan guruku. 

Waktu berlalu. Obsesi pasangan ini beralih menjadi ingin segera memiliki anak. Kekuatan dan gempuran juga dilancarkan oleh seluruh anggota keluarga kepada mereka. Untuk memiliki anak. 

Larangan makan ini makan itu. Jangan begini jangan begitu. Datang terus dan menjadi rumit seperti bintang-bintang langit di kegelapan malam. Jauh. Banyak. Tak dijangkau. Tak dijangkau karena dianggap Doni itu sulit.

Doni memiliki keluarga yang sederhana makanannya. Tak terlalu mempermasalahkan makanan. Keluarga istrinya terlalu mempermasalahkan makanan. 

Sudah 5 hari ini Doni tidak tidur di rumah mertuanya. Istrinya ada di rumah mertuanya. Bagi sebagian orang, ini adalah hal biasa. Tapi tidak bagi mereka. 

Sudah lima tahun pasangan ini selalu tidur bareng. Tidak tidur bareng selama semalam itu seperti rasanya setahun. Begitulah kerinduan yang telah tumbuh dalam hati mereka. 

Alasan Doni untuk tidur di rumah orang tuanya adalah menenangkan diri. Tak kuat dia mendengarkan ceramah berseri dari mertuanya. 

"Ngapain kamu tidur di timur? Timur adalah sebutan untuk rumah Orang tua Doni. Kenapa gak tidur barat?". Pertanyaan itu dilontarkan oleh mertua dan istrinya. Karena merasa aneh. Biasanya Doni selalu tidur di Barat. 

Ibu mertuanya terus meluncurkan peluru-peluri omongannya: "Apa kamu marah atas omongan Ibu? Kata ibu mertuanya. Ibu itu tidak bermaksud apa-apa. Ibu hanya menasehati."

Doni pun menjawab: "Saya tidak ada maksud apa-apa, Bu? Saya hanya ingin mengajak istri tidur di timur dan barat." Ibu mertua pun menimpali: "Kalian itu bukan lagi pengantin baru. Kalian itu pasangan lama. Sudah 5 tahun. Ngapain ke timur dan barat."

"Saya hanya pengen aja Bu." Doni bersikukuh dengan keputusannya. Doni merasa terusik statusnya sebagai suami. Doni tak bisa mengajak istrinya. 

Doni pun sadar diri, aku itu siapa. Doni tak memaksa. Doni hanya menunggu istrinya mau diajak ke timur. 

Doni merasa nyaman di timur. Karena memang rumah orang tuanya sendiri. Di samping itu, di dekatnya ada Pondok Pesantren. Doni biasa mengaji di sana sejak kecil.

Sejak tidur di timur, Doni mulai ikut mengaji pagi. Ngaji dimulai pukul 05.30-07.00 WIB. Ngaji Tafsir Jalalain dan Ihya. 

Ngaji seolah memberi bekal tak ternilai untuk menjalani hidup dengan mantap. Masalah yang dihadapi seperti terjawab semuanya. Meski tak ada tanya jawab. 

Entah salah atau benar. Doni menikah dengan perempuan yang bukan santri. Tapi, sudahlah. Semua telah terjadi. 

Doni merasa harus bertanggung jawab karena memiliki status sebagai suami. Namun, istrinya tak mau diajaknya. Secara ilmu fiqih, istri yang tidak manut pada suami, hukumnya adalah suami tidak wajib menafkahi. 

Di rumah mertuanya, semua dikendalikan oleh Ibu. Ini tidak cocok dengan jiwa Doni. Hatinya menjawab sendiri: "Tapi tak apalah itu memang rumahnya." Kontrol, pengendalian, dikte (anggap aja istilahnya begitu) terjadi. Doni tak punya pilihan untuk membuat pilihan sendiri. 

Ada beberapa prinsip yang perlu diperbaiki menurut Doni. Dan itu tidak bisa diungkapkan langsung oleh Doni. Takut terjadi keributan atau kesalahpahaman. 

Keputusan yang diambil Doni adalah menunggu istrinya mau diajak ke timur. Itu saja untum saat ini. Dan berharap semoga kondisinya membaik. Dan mertuanya lebih terbuka untuk berdialog dengan hangat.

Istri Doni lebih nempel dengan ayah atau ibunya. Hal ini membuat hati Doni tersinggung. Hati Doni berkata: "Sebenarnya aku ini suamimu atau bukan sih. Rukun dan mesra harusnya terjadi antara aku dan istriku. Tapi sementara ini tidak. Siapa sih yang tidak ingin pasangannya hangat dan mesra."

1 komentar:

  1. Permasalahan yang begitu kompleks dan tidak mungkin hanya dinilai semata,. Sampai bingung harus berkata apa.,

    BalasHapus